Kamis, 23 Juni 2011

BUSINESS ETHICS

What is Corporate Culture?
Corporate culture is one of those focus areas that are not always fully understood.





Corporate Culture Defined

Corporate culture is one of those focus areas that are not always fully understood and are not optimally utilized either in an organization.

A basic definition of organizational culture is the collective way we do things around here. It involves a learned set of behaviors that is common knowledge to all the participants. These behaviors are based on a shared system of meanings which guide our perceptions, understanding of events, and what we pay attention to. As Sun Tzu, a Chinese military general from 3000 BC, indicated in his explanation of strategy, culture forms an integral part of any organizational strategy. It consists of Tao - the created and shared beliefs, values, and glue that holds an organization together, and it also involves the very nature of the organization. Culture is about individuals in a group sharing patterns of behavior. There is no cultural absolute. Because culture is relative, we have the power to create a culture that is the best fit for an organization’s future direction.

Observing Culture

Culture plays out in a variety of ways. We can identify the specifics of it from how information is communicated, feedback is given, performance is managed, and projects are co-coordinated within the organization. It is reflected in the way the corporation or institution is structured; whether work is conducted cross-functionally or within silos, how the hierarchical levels are set up, and the types of job titles used. Culture is often defined by the systems that are used, the processes that are followed, and the rituals, symbols, and stories that abound in the organization. It is even reflected in how meetings are held in an organization.

Corporate Culture as an Obstacle

When working towards company goals or when trying to effect change in the organization, your organizational culture can be the very thing that trips you up. If insufficient effort is put towards identifying aspects of the culture that may impact on what you are trying to achieve, then insufficient actions will be taken to circumvent obstacles in a timely manner or harness the way things are done in an opportune direction. This is best explained through an example.

An organization espouses that “people are our most important asset” as part of its new philosophy. However, employees witness a senior executive being escorted off site with his belongings by security guards after being laid off. They receive an e-mail explaining where they will be sitting and who they will be reporting to in the future restructure - with no fore-warning or personal contact. Training and development opportunities for employees are stopped in order to cut costs. Actions that consistently reflect a certain core culture will more effectively emphasize to employees what the leadership’s true values are than any widely publicized statement. If a direction is truly desired, then all actions that will reflect the required culture need to be considered and instituted accordingly.

Aligning Culture for Success

Once a strategy is set for the organization, the way deliverables are produced in the organization needs to be examined and challenged. This is to ensure that every process is geared towards achieving the strategy.

Every component of the corporate culture needs to underpin what is required from all stakeholders in order to realize the strategic goals. There must be a reinforcing stream of communications. All the actions in the organization need to translate into the cultural realities. A culture can be created or reinforced through the use of socialization. Avenues for socialization abound in functions like selection, placement on the job, job mastery, the measurement and rewarding of performance, and recognition and promotion. Reinforcing a culture can emerge through the stories told and the folklore propagated and, most importantly, through the adherence to chosen important values. The key to the success of the above is to ensure that the culture you wish to socialize others into is an ideal one, necessary for breakthrough performance in your work area or organization. If it is not, then you need to involve everyone in the evaluation and creation of a more suitable culture
.

Strong Leadership is Required

One of the surest ways to align the culture to the organization’s strategy is to apply leadership practices that are also aligned. The leaders, at all levels, need to know what the required culture is and then determine ways of establishing practices and procedures in all operations that will closely reflect the desired culture. They also need to role model the very behaviors they wish exhibited by everyone in the organization and provide the necessary support to others that will enable them to function accordingly as well. Particular attention also needs to be given to all communications.

Leadership needs to be front and center to create a corporate culture that works.


My comment
 In this article, any reason why the culture in the corporate can be the constraint to the company. Sometimes the employee give the response to the culture in the company not good or so difficult to adobe this culture. The strong leadership sometimes give the big influence too for the employee.

Senin, 23 Mei 2011

Organization Behavior

Short Article

SIKAP SEORANG PEMIMPIN 
oleh: Nilna Iqbal – Pustaka Nilna


Sebagian kita adalah pemimpin bagi sebagian yang lain.
Jika anda punya satu orang anggota saja, maka anda adalah seorang pemimpin.
Dalam bukunya yang amat terkenal, “Mengembangkan Kepemimpinan Di Dalam Diri Anda”, John C. Maxwell berkata,
Mengubah pemimpin berarti mengubah organisasi.
Menumbuhkan pemimpin, menumbuhkan organisasi
.”

Artinya? Perusahaan atau organisasi tidak akan berubah dan tidak akan berjalan ke arah yang dicita-citakan, apabila para pemimpinnya sendiri, di bagian apapun, tidak berubah dan tidak tumbuh. Sebuah organisasi tidak bisa tumbuh di luar sampai para pemimpinnya sendiri tumbuh di dalam.
Jika seluruh unit kepemimpinan berubah secara positif, maka pertumbuhan organisasi atau perusahaan akan terjadi secara otomatis. Pemimpin yang lemah sama dengan organisasi yang lemah. Pemimpin yang kuat sama dengan organisasi yang kuat. Segala-galanya akan naik atau turun, sesuai dengan kekuatan kepemimpinan.
Kita mungkin juga bisa sepakat bahwa perbedaan antara perusahaan yang baik dengan perusahaan yang hebat juga adalah kepemimpinan. Apakah Anda bersedia jadi pemimpin yang hebat?

Syaratnya, mau berubah ! Apa ada pemimpin yang menolak perubahan? Banyak…! Perlawanan terhadap perubahan adalah sesuatu yang universal sifatnya, menyerang semua kelas dan budaya. Sekalipun sudah ditunjukkan berbagai fakta kebenaran dan bukti nyata, tetap saja banyak pemimpin yang tidak mau mengubah sikap dan pikirannya.
Maxwell mengambil sebuah kisah yang amat menarik tentang Henry Ford yang gagal memimpin dunia otomotif lantaran ia tidak mau berubah, seperti yang dilukiskan dalam biografi Robert Lacy yang laris, Ford: The Man and the Machine. Lacy mengatakan Ford adalah orang yang begitu mencintai mobil model T yang diciptakannya sehingga ia tidak mau mengubah satu baut pun pada mobil itu. Dia bahkan mendepak William Knudsen, karena Knudsen berpikir dia melihat kemerosotan Model T.
Itu terjadi tahun 1912, ketika Model T baru berumur empat tahun dan sedang berada di puncak popularitasnya. Saat itu Ford baru saja kembali dari perjalanan pesiar di Eropa, dan dia pergi ke garasi Highland Park, Michigan, dan melihat rancangan baru yang diciptakan Knudsen.
Para montir yang ada disana mencatat bagaimana Ford sesaat menjadi mata gelap. Dia memandangi kilatan cat merah pada versi Model T yang rendah yang dianggapnya sebagai versi yang buruk dari rancangan Model T yang disayanginya. “Ford memasukkan tangan ke dalam sakunya, dan dia berjalan mengelilingi mobil tiga atau empat kali,” kata para saksi mata menceritakan. “Itu adalah mobil empat pintu, dan atapnya diturunkan. Akhirnya, dia pergi ke sisi kiri mobil, dan dia mengeluarkan tangannya, memegang pintu, dan gubrak! Dia merenggutkan pintu sampai copot! … Bagaimana orang itu melakukannya, saya tidak tahu! Dia melompat masuk, dan gubrak! Copot pula pintu lainnya. Hancurlah kaca depan. Dia melompat ke jok belakang dan mulai memukuli atap. Dia merobek atap dengan tumit sepatunya. Dia menghancurkan mobil sebisa-bisanya.”
Knudsen keluar dan pergi ke General Motors. Henry Ford terus memelihara Model T. Tetapi perubahan desain dalam model pesaing membuatnya menjadi lebih kuno daripada yang diakuinya. Kendati General Motor mengancam akan mendahului Ford, sang pencipta tetap menginginkan kehidupan membeku di tempatnya.

Karena Keyakinan Berabad-Abad …
Contoh berikut pun cukup menarik. Selama berabad-abad orang percaya bahwa Aristoteles benar, dengan teorinya: bahwa semakin berat suatu benda, semakin cepat benda itu jatuh ke tanah. Pada waktu itu Aristoteles dipandang sebagai pemikir terbesar sepanjang zaman dan karena itu tentu saja dia tidak mungkin salah.
Padahal yang diperlukan hanyalah seorang yang berani untuk mengambil dua buah benda, yang satu berat dan lainnya ringan, lalu menjatuhkannya dari ketinggian yang cukup untuk melihat apakah benda yang berat memang jatuh lebih dahulu atau tidak. Tetapi saat itu tidak ada orang yang tampil ke depan sampai hampir 2000 tahun setelah kematiannya.
Pada tahun 1589, Galileo memanggil para professor yang terpelajar ke landasan Menara Miring Pisa. Kemudian dia naik ke puncak dan mendorong jatuh dua buah beban, yang satu seberat sepuluh pon dan yang lainnya satu pon. Hasilnya, keduanya ternyata mendarat pada saat yang sama!
Apa kata para professor? Karena mereka tetap yakin dengan kekuatan kebijaksanaan konvensional yang demikian kokoh bersemayam dalam diri mereka, para professor itu tetap menyangkal apa yang mereka lihat. Mereka tetap mengatakan bahwa Aristoteles benar, lalu lemparkan Galileo ke penjara dan melewatkan sisa hidupnya dalam tahanan rumah.
Pertanyaannya, masih adakah sesuatu yang begitu kuat anda yakini sehingga sekalipun sudah berulang kali diperlihatkan fakta-fakta betapa pentingnya kita segera berubah, tetap saja Anda tidak mau berubah?
Karena itulah, Howard Hendrick, dalam Teaching to Change Lives mengingatkan: Kalau Anda ingin terus memimpin, maka Anda harus berubah. Begitu para pemimpin secara pribadi mau berubah dan mulai melakukannya, maka segala sesuatu yang berada dalam tanggung jawabnya pasti segera berubah.
Para pemimpin adalah motor perubahan, dan karena itu ia harus berada di depan untuk menggerakkan perubahan dan mendorong pertumbuhan serta menunjukkan jalan untuk mencapainya.
Tapi terkadang ada pula sebagian pemimpin kita yang mungkin berperilaku seperti Lucy dalam kartun “Peanuts”. Sambil menyandar ke pagar ia berkata pada Charlie Brown, “Saya ingin mengubah dunia.” Charlie bertanya, “Darimana kamu akan memulai?” Lucy menjawab, “Saya akan mulai dengan kamu!”

Menjadi Termostat
Para pemimpin yang ada di seluruh bagian perusahaan dimanapun ia berada, harus mampu menjadi motor perubahan. “Mereka harus lebih menjadi termostat daripada termometer,” kata Maxwell, dalam bukunya Mengembangkan Kepemimpinan Di Sekeliling Anda.
Apa bedanya? Kedua alat ini memang sama-sama bisa mengukur panas, tapi ada bedanya. Termometer bersifat pasif. Ia hanya mencatat suhu lingkungan tetapi tidak bisa melakukan apapun untuk mengubah lingkungan. Termostat adalah alat yang aktif. Alat ini menentukan akan menjadi apa sebuah lingkungan. Termostat mempengaruhi perubahan supaya bisa menciptakan iklim. Pemimpin yang baik, mampu menjadi motor perubahan yang menciptakan iklim yang kondusif bagi pertumbuhan cita-cita perusahaan.
Perubahan Apa?
John C. Maxwell dalam buku “The Winning Attitude” menggambarkan:
orang berubah ketika mereka cukup sakit sehingga harus berubah; cukup belajar sehingga ingin berubah;
cukup menerima sehingga mereka bisa berubah
.”
Karena itu para pemimpin perlu mengenali siapa-siapa saja orang-orangnya yang berada dalam salah satu dari tiga tahap ini. Sedangkan para pemimpin puncak akan menciptakan suasana yang menyebabkan salah satu dari tiga hal ini terjadi.
Apa yang pertama dan utama sekali perlu diubah oleh para pemimpin, sehingga ia mampu menciptakan suasana yang akan mendorong orang lain ikut berubah?

Maxwell, mengajarkan:
Pertama, pemimpin harus mengembangkan kepercayaan dengan orang lain. Kalau anggota tim percaya kepada pemimpin, itu sudah lumayan hebat. Akan tetapi jauh lebih hebat lagi jika justru pemimpin yang percaya kepada para anggotanya. Bila ini benar-benar terjadi, kepercayaan adalah hasilnya, maka semua pun akan mengikuti.
Abraham Lincoln berkata, “Kalau Anda ingin merebut hati seseorang agar mendukung perjuangan anda, mula-mula yakinkan dia bahwa anda sahabatnya yang sejati. Lalu selidikilah apa yang ingin dicapainya.” Ujian praktis bagi seorang pemimpin adalah pertanyaan, “Bagaimana hubungan Anda dengan para pengikut Anda?” Kalau hubungannya positif, maka pemimpin itu telah siap untuk mengambil langkah-langkah berikutnya.
Kedua, pemimpin harus membuat perubahan pribadi pada dirinya sendiri, sebelum meminta orang lain berubah. Para pemimpin sukses bukan hanya mengatakan apa yang harus dilakukan, mereka memperlihatkannya!
Orang meniru apa yang mereka lihat dari sang pemimpin. Apa yang dihargainya akan dihargai pula oleh anak buahnya. Tujuan pemimpin menjadi tujuan mereka.
Lee Iacocca berkata, “Kecepatan bos adalah kecepatan tim.” Kita perlu ingat bahwa kalau orang mengikuti kita, mereka hanya bisa pergi sejauh kita pergi.
Kalau pertumbuhan kita berhenti,
kemampuan kita untuk memimpin pun akan berhenti.
Karena itu mulailah belajar dan tumbuh sejak hari ini, maka lihatlah mereka yang ada di sekeliling anda, mereka pun ternyata tumbuh dan berubah. Ambil contoh saja, mulailah menghilangkan sikap takut mengatakan hal-hal yang tidak ingin didengar oleh atasan anda.
Sebagai pemimpin anda harus melaporkan dan menyampaikan apa yang perlu anda laporkan, bukan apa yang sebaiknya dilaporkan. Lalu rangsanglah anggota organisasi anda untuk berani pula menyampaikan apa yang perlu anda dengar, bukan apa yang ingin anda dengar.
Ketiga, perlihatkan kepada tim anda bagaimana perubahan itu sebenarnya akan sangat menguntungkan bagi mereka. Sebab perubahan yang sedang kita lakukan saat ini adalah jalan terbaik bagi seluruh pihak,demi masa depan semua orang, bukan bagi anda sebagai pimpinannya. Kepentingan orang banyak itulah yang harus didahulukan.
Keempat, beri mereka andil kepemilikan atas perubahan itu. Kalau orang kurang ikut memiliki suatu gagasan, mereka biasanya menentangnya, bahkan seandainya pun gagasan itu sebetulnya untuk kepentingan mereka yang terbaik!
Pemimpin yang bijaksana memungkinkan pengikut bisa memberikan masukan dan menjadi bagian dari proses perubahan. Tanpa rasa memiliki ini, perubahan hanya akan berjangka pendek. Mengubah kebiasaan dan cara berpikir orang banyak seperti menulis perintah di atas salju dalam badai. Setiap duapuluh menit perintah harus ditulis kembali, kecuali kalau kepemilikan diberikan bersama dengan perintah.
Karena itu, kata Trusell dalam Helping Employees Cope with Change: A Manager’s GuideBook:
  • Tunjukkan kepada orang lain bagaimana perubahan akan menguntungkan mereka.
  • Mintalah mereka untuk berperan serta dalam semua tahap proses perubahan.
  • Bersikaplah lentur, terbuka dan bisa menyesuaikan diri sepanjang proses perubahan.
  • Akuilah kesalahan dan buatlah perubahan kalau sesuai dengan keadaan.
  • Doronglah setiap anggota tim untuk membicarakan perubahan.
  • Mintalah pertanyaan, komentar dan umpan balik mereka.
  • Tunjukkan keyakinan anda atas kemampuan mereka untuk melaksanakan perubahan.
  • Akhirnya jangan lupa berilah selalu antusiasme, bantuan, penghargaan, dan pengakuan kepada mereka yang melaksanakan perubahan.




TIPS ‘N TRIK MENJADI PEMIMPIN YANG DICINTAI

Posted by: subhanalloh | November 29, 2008 | 
 

Setiap individu memiliki kemungkinan untuk menjadi seorang pemimpin, dan setiap kepemimpinan pasti akan dimintai pertanggung jawaban baik di dunia maupun di akhirat. Seorang pemimpin memiliki standar tertentu untuk dapat menjadi pemimpin yang baik dan dicintai. Pemimpin yang dicintai bukan berarti pemimpin yang dapat memenuhi atau memberikan segala hal sesuai keinginan orang yang dipimpinnya, tetapi pemimpin yang dapat menempatkan dirinya proporsional dalam posisinya. Apakah anda termasuk seorang pemimpin yang sukses atau gagal?
Berikut ada 10 tips dan trik untuk menjadi pemimpin yang sukses, sangat cocok untuk dibaca bagi anda yang sudah menjadi pemimpin maupun bagi anda yang akan menjadi pemimpin. Istilah “orang lain” di bawah ini meliputi bawahan, rekan sejajar, atasan dan masyarakat.

1. Integritas kepada orang lain
Integritas atau memberikan kesetiaan atau kepedulian kepada orang lain atau bawahan, berarti mempertahankan nilai-nilai dan moral yang dipercayai kepada orang lain. Integritas akan menunjukkan kepada orang lain, komitmen terhadap satu hal dan bukan sebagai orang yang tulalit.
2. Memelihara orang lain
Jika kita melihat ke sekeliling kita, maka akan kita saksikan bahwa ada orang di dalam hidup kita yang ingin diberi makan, dengan dorongan aman dan harapan, yang merupakan kebutuhan setiap manusia. Inti dari proses pemeliharaan adalah perhatian tulus kepada orang lain. Berikan perhatian dan rasa aman kepada orang yang dipimpin, namun tetap dengan cara yang mendidik.
3. Percaya terhadap kemampuan orang lain
Setiap orang akan senang jika mereka merasa dipercaya dan banyak orang akan mengerjakan apa saja untuk memenuhi kepercayaan tersebut. Berilah kepercayaan kepada orang yang kita pimpin sesuai dengan kemampuan dan wilayah kerjanya, namun sampaikan terlebih dahulu dengan jelas apa yang harus dia lakukan.
4. Mendengar apa yang disampaikan orang lain
Dengarkan dan perhatikan apa yang di sampaikan orang lain disekitar kita, ketika hal tersebut dilakukan sesungguhnya kita membangun hubungan terhadap orang lain dan mereka akan merasa dihargai. Karena pada dasarnya setiap orang pasti ingin dirinya dihargai, maka berikanlah hal itu. Orang yang tidak pernah menghargai orang lain, jangan pernah berharap dia akan dihargai apalagi dicintai.
5. Kemampuan memahami orang lain
Setiap orang sebenarnya ingin didengar, dihormati dan dipahami, ketika orang melihat bahwa mereka dipahami, mereka akan merasa dimotivasi dan dipengaruhi secara positif. Sesungguhnya cara paling halus dan jitu untuk mempengaruhi dan mengambil hati orang lain adalah dengan memahami dan mendengarkan apa yang dia sampaikan. Berikan sepenuhnya apa yang sudah menjadi hak mereka tanpa harus melalaikan pendidikan untuk mereka sadar akan kewajiban mereka juga.
6. Mengembangkan bakat orang lain
Berarti kita membantu mereka menangkap peluang untuk membantu mewujudkan potensi mereka. Berikan kesempatan kepada orang yang kita pimpin agar mereka bisa terus maju dan meraih jenjang yang lebih tinggi. Tak akan pernah kita rugi bila kelak orang yang kita pimpin menjadi individu yang mandiri dan lebih sukses. Bahkan mereka mungkin akan menjadi akses atau relasi yang menguntungkan bagi kita di masa depan.
7. Menjadi arah (navigator) bagi orang lain
Berarti mengidentifikasi tempat tujuan. Ketika seseorang memiliki potensi pribadinya maka ia memerlukan arah untuk mengembangkan potensi tersebut. Dengan mengarahkan orang lain kepada kesuksesan, tanpa kita sadari kita pun telah melatih diri kita untuk menjadi pribadi yang lebih sukses. Ilmu kita meningkat, pengalaman kita bertambah, kemampuan kita semakin diasah, relasi atau jaringan kita bertambah dan kebaikan kita pun berlipat ganda. Sungguh sebuah multiple effect yang luar biasa.
8. Berhubungan dengan orang lain
Dianalogikan pada rangkaian gerbong kereta api dan apa yang terjadi. Gerbong itu berada di atas rel, dimuati barang-barang, mempunyai tujuan dan rute. Tapi gerbong ini tidak memiliki arah jika tidak dihubungkan dengan lokomotif. Sama halnya ketika kita membawa orang pergi, kemana mereka harus pergi, dimana keberadaannya, ini hanya akan diketahui jika kita memiliki hubungan dengan banyak pihak, (maksudnya seorang pemimpin harus mempunyai arah dan tujuan yang jelas). Relationship dan multiple link adalah satu hal yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin jika ia ingin timnya dan dirinya sukses. Semakin banyak relasi dan semakin luas jaringan yang kita miliki maka semakin besar peluang yang kita raih.
9. Memperlengkapi orang lain
Artinya ketika kita mempercayakan orang lain dengan sebuah keputusan penting maka kita harus dengan senang mendukungnya. Ketika kita memberi wewenang kepada orang lain maka kita telah meningkatkan kemampuan orang lain tanpa menurunkan kemampuan kita. Maksudnya jika seorang pemimpin telah mampu mendelegasikan tugas dengan baik kepada bawahannya, berarti ia telah membuat langkah cerdas dalam kerjanya, tugas yang tercapai lebih banyak dan lebih cepat. Bawahannya semakin pintar dan pada akhirnya tujuan bersama pun tercapai dengan hasil terbaik. Namun syarat sebelum pendelegasian adalah berikan penjelasan dan ilmu sampai orang yang kita delegasikan tersebut paham benar tentang apa yang harus ia lakukan.
10. Memproduksi orang berpengaruh
Artinya bagaimana ketika kita telah mengubah orang lain agar ia menjadi pengikut seperti diri kita. Pada akhirnya kita akan mampu menciptakan orang-orang berpengaruh yang kelak akan menciptakan orang-orang seperti kita juga. Dan terus seperti itu. Sehingga dalam lingkungan/koridor kepemimpinan kita semua personil, elemen dan pihak memiliki kemampuan seperti kita dan melakukan seperti apa yang kita inginkan tanpa harus selalu diperintah.


Selamat melatih diri untuk menjadi pemimpin yang baik, insya Allah anda akan dicintai oleh orang lain.
Salam sukses dan terus semangat
Aji Sugiarto, S.E

Jumat, 29 April 2011

ETHICS AND ENVIRONMENT

Do Fireworks Celebrations Cause Any Significant Pollution?

-- David Hiebert, Scottdale, PA
Perhaps it should come as no surprise that the fireworks displays that go on around the U.S. every Fourth of July are still typically propelled by the ignition of gunpowder--a technological innovation that pre-dates the American Revolution itself. And the fall-out from these exhibitions includes a variety of toxic pollutants that rain down on neighborhoods from coast to coast, often in violation of federal Clean Air Act standards.
 
Depending on the effect sought, fireworks produce smoke and dust that contain various heavy metals, sulfur-coal compounds and other noxious chemicals. Barium, for instance, is used to produce brilliant green colors in fireworks displays, despite being poisonous and radioactive. Copper compounds are used to produce blue colors, even though they contain dioxin, which has been linked to cancer. Cadmium, lithium, antimony, rubidium, strontium, lead and potassium nitrate are also commonly used to produce different effects, even though they can cause a host of respiratory and other health problems.
 
The chemicals and heavy metals used in fireworks also take their toll on the environment, sometimes contributing to water supply contamination and even acid rain. Their use also deposits physical litter on the ground and into water bodies for miles around. As such, some U.S. states and local governments restrict the use of fireworks in accordance with guidelines set by the Clean Air Act . The American Pyrotechnics Association provides a free online directory of state laws across the U.S. regulating the use of fireworks.
 
Of course, fireworks displays are not limited to U.S. Independence Day celebrations. Fireworks use is increasing in popularity around the world, including in countries without strict air pollution standards. According to The Ecologist , millennium celebrations in 2000 caused environmental pollution worldwide, filling skies over populated areas with ?carcinogenic sulpur compounds and airborne arsenic.?
 
Not usually known for championing environmental causes, the Walt Disney Company has pioneered new technology using environmentally benign compressed air instead of gunpowder to launch fireworks. Disney puts on hundreds of dazzling fireworks displays every year at its various resort properties in the U.S. and Europe, but hopes its new technology will have beneficial impact on the pyrotechnics industry worldwide. The company has made the details of new patents it has filed for the technology available to the pyrotechnics industry at large with the hope that other companies will also green up their offerings.
 
While Disney?s technological breakthrough is no doubt a step in the right direction, many environmental and public safety advocates would rather see the Fourth of July and other holidays and events celebrated without the use of pyrotechnics. Parades and block parties are some obvious alternatives. Meanwhile, laser light shows can wow a crowd without the negative environmental side effects associated with fireworks.
CONTACTS: American Pyrotechnics Association, www.americanpyro.com/State%20Laws%20(main)/statelaws.html ; Walt Disney Company, http://corporate.disney.go.com/environmentality/press_releases/2004/2004_0628.html .

GOT AN ENVIRONMENTAL QUESTION? Send it to: EarthTalk, c/o E/The Environmental Magazine, P.O. Box 5098, Westport, CT 06881; submit it at: www.emagazine.com/earthtalk/thisweek/ , or e-mail: earthtalk@emagazine.com . Read past columns at: www.emagazine.com/earthtalk/archives.php.

Photo: Getty Images




My comment 

After I found and  read this article about Fireworks Celebrations cause Any Significant Pollution. Actually fireworks so beautiful and make who see it can be happy and every one like this event. In the new years all  of people start with the children until old people celebrate this event. Fireworks celebrate was been generally in the world. 

Many company produce fireworks especially in American.
Disney puts on hundreds of dazzling fireworks displays every year at its various resort properties in the US and Europe, but hopes its new technology will have beneficial impact on the pyrotechnics industry worldwide.
Not usually known for championing environmental causes, the Walt Disney Company has pioneered new technology using environmentally benign compressed air instead of gunpowder to launch fireworks.
But are we all know that fireworks celebrate can make pollution in the world???
Depending on the effect sought, fireworks produce smoke and dust that contain various heavy metals, sulfur-coal compounds and other noxious chemicals.
Barium, for instance, is used to produce brilliant green colors in fireworks displays, despite being poisonous and radioactive.
Copper compounds are used to produce blue colors, even though they contain dioxin, which has been linked to cancer.
Cadmium, lithium, antimony, rubidium, strontium, lead and potassium nitrate are also commonly used to produce different effects, even though they can cause a host of respiratory and other health problems.
The chemicals and heavy metals used in fireworks also take their toll on the environment, sometimes contributing to water supply contamination and even acid rain.
Their use also deposits physical litter on the ground and into water bodies for miles around.
As such, some US states and local governments restrict the use of fireworks in accordance with guidelines set by the Clean Air Act .

So I think any good idea if in Indonesian can do the same way with American. Without fireworks celebrate when the new years come we still can celebrate with the different way...because now we all know that fireworks many has the toxic. So..come on we keep our environment.


Retyan
A.2008.1.31128